Komponen Kimia penyusun Sel (Biologi)

Sel disusun oleh berbagai senyawa kimia, seperti karbohidrat, protein,lemak , asam nukleat dan berbagai senyawa atau unsur anorganik. Berikut akan diuraikan tentang komposisi kimia sel .

 

1. Karbohidrat

                 Karbohidrat disusun oleh unsur C ( karbon ), H ( hidrogen ) dan O ( oksigen ). Karbohidrat merpakan senyawa yang terdapa dalam tubuh dalam jumlahbesar di dalam tubuh. Karbohidra dibagi  ke dalam tiga kelompok , yaitu sebagai berikut :

 

a. Monosakarida

                 Monosakarida merupakan gula sederhana . Sifat dan cirinya adalah rasanya manis, dapat larut dalam air dan dapat dikristalkan. Monosakarida terdiri dari pentosa dan heksosa. Contoh pentosa antara lain adalah ribosa, deoksiribosa dan ribulosa. Adapun heksosa contohnya glukosa, galaktosa dan fruktosa .

 

b. Disakarida

                 Disakarida merupakan gabungan dua gula dari gugus monosakarida. Memiliki sifat rasanya manis, larut dalam air dan dapat dikristalkan. Contoh disakarida adalah: maltosa, sukrosa dan laktosa .

 

c. Polisakarida .

                 Polisakarida merupakan karbohidrat kompleks dengan rantai molekul yang panjang . Rasanya tidak manis , tidak dapat  dikristalkan dan tidak larut  dalam air  . jika larut maka akan membentuk suspensi karena ukuran molekulnya besar.

 

2. Protein

                 Protein tersusun atas unsur : C ( karbon ), H ( hidrogen ) dan O ( oksigen ) dan N( nitrogen ) . Protein merupakan polipeptida atau biopolimer  yang tersusun atas asam amino. Ada sekitar 20 macam asam amino sebagai unit dasar penyusun protein . Asam amino sifatnya larut dalam air , dapat dikristalkan , mempunyai titik didih yang tinggi dan dapat bersifat asam atau basa . Protein berperan sebagai penyusun membran sel dengan bergbung bersama lemak membentuk senyawa lipoprotein , protein seperti itu dinamakan protein struktural . Selain itu protein memiliki fungsi yang lain misalnya membentuk enzim dan ini disebut protein fungsional .

 

3. Lemak ( lipida )  

                 Merupakan senyawa yang tersusun atas unsur C ( karbon ), H ( hidrogen ) dan O ( oksigen ). Lemak  tersusun atas senyawa gliserol dan asam lemak yang merupakan unit dasar penyusun lemak. Sifat lemak diantaranya tidak larut dalam air, densitas atau kerapatanna lebih rendah dari air , memiliki viskositas atau kekentalan yang tinggi . Contoh lemak adalah trigliserida, fosfolipid, steroid . Fungsi lemak antara lain penyusun membran sel bersama-sama dengan protein, penyusun hormon kelamin pria seperti testosteron .

 

4. Asam Nukleat

                 Asam nukleat merupakan polinukleotida ( terdiri atas nukleotida-nukleotida ) yang terdiri atas DNA ( Deoksiribonucleic acid ) dan RNA ( Ribonucleic acid ). Asam nukleat bertindak sebagai penyipan informasi genetik pada sel . Asam nucleat terdiri atas nukleotida-nukleotida. Setiap nukleotida tersusun atas : Fosfat , gula pentosa dan basa nitrogen. DNA berperan penting dalam pembentukan gen pda kromosom adapun RNA berperan penting dalam sintesis protein.

 

5. Air

                 Air merupakan senyawa  utama dan merupakan senyawa dalam jumlah terbesar penyusun sel ( 50 – 60 %  berat sel ) . Air merupakan bagian esensial cairan tubuh yang terdiri dari cairan intrasel ( sitoplasma ) , plasma darah dan cairan ekstraseluler . Air berfungsi sebagai pelarut dan sebagai katalisator reaksi-reaksi biologis.

 

6. Vitamin dan mineral

                 Vitamin dibutuhkan dibutuhkan dalam jumlah kecil, tetapi harus ada . Peran vitamin adalah mempertahankan fungsi metabolisme , pertumbuhan   dan penghancur radikal bebas . Contoh vitamin : A, B1, B2, B3, B5, B6, B12, C, D, E, K dan H )

 

7. Mineral

                 Mineral merupakan unsur-unsur kimia selain karbon, hidrogen dan oksigen . Mineral ada yang terdapat dalam jumlah yang besar ( makroelemen ) seperti : kalsium ( Ca ), fosfor ( P ) , magnesium ( Mg ), natrium ( Na ), klor ( Cl ) dan belerang ( S ). Mineral lain terdapat dalam jumlah sedikit ( mikroelemen ) seperti: zat besi ( Fe ), yodium ( I ), Seng ( Zn ) kobalt ( Co ) fluorin ( F ) . Mineral berfungsi sebagai komponen struktural sel, pemeliharaan fungsi metabolisme , pengaturan kerja enzim, menjaga keseimbangan asam dan basa

PENGERTIAN, JENIS, dan PENCEGAHAN TANAH LONGSOR! (PKLH)

 

                   

 

Indonesia rawan terhadap gempa bumi , letusan gunung api dan tanah longsor. Jenis tanah yang banyak ditemui di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini bersifat subur dengan komposisi sebagian besar lempung dan sedikit pasir.

Tanah pelapukan yang ada di atas batuan kedap air pada pegunungan atau perbukitan dengan kemiringan sedang sampai terjal, berpotensi menimbulkan kelongsoran pada musim hujan. Jika di perbukitan atau pegunungan tidak ada tanaman keras berakar, kawasan itu rawan bencana kelongsoran.

 

Definisi Tanah Longsor

Tanah longsor terjadi akibat perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau campuran kedua material tersebut yang bergerak kebawah atau keluar lerengterjadinya kelongsoran diawali oleh air yang meresap kedalam tanah menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai ketanah kedap air, tanah menjadi licin dan tanah pelapukan diatasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

 

Jenis Tanah Longsor

Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.


 

1.

Longsoran Translasi

Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

 
     

2.

Longsoran Rotasi

Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.

 
     

3.

Pergerakan Blok

Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.

 
     

4.

Runtuhan Batu

Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

 
     

5.

Rayapan Tanah

Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

 
     

6.

Aliran Bahan Rombakan

jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

 

Faktor Penyebab Tanah Longsor

1. Hujan

Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November seiring meningkatnya intensitas hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Muncul-lah pori-pori atau rongga tanah, kemudian terjadi retakan dan rekahan tanah di permukaan. Pada saat hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak. Tanah pun dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor karena melalui tanah yang merekah itulah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Apabila ada pepohonan di permukaan, pelongsoran dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah.

 

2. Lereng terjal


Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.

 
 
 

3. Tanah yang kurang padat dan tebal


Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 meter dan sudut lereng > 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor, terutama bila terjadi hujan. Selain itu, jenis tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek jika terkena air dan pecah jika udara terlalu panas.


 

4. Batuan yang kurang kuat


Pada umumnya, batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah jika mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor apabila terdapat pada lereng yang terjal.

 

5. Jenis tata lahan



Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.

6. Getaran


Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.

 

7. Susut muka air danau atau bendungan

Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

 

8. Adanya beban tambahan


Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.

 

9. Pengikisan/erosi



Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

 


 

10. Adanya material timbunan pada tebing


Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.

 

11. Bekas longsoran lama

Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri:

  • Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda.
  • Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur.
  • Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai.
  • Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah.
  • Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama.
  • Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil.
  • Longsoran lama ini cukup luas.
 

12. Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)

Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri:

  • Bidang perlapisan batuan
  • Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar
  • Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat.
  • Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air).
  • Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat.
  • Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.
 

13. Penggundulan hutan


Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang.

 

14. Daerah pembuangan sampah


Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.

 

Wilayah Rawan Tanah Longsor

Setidaknya terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Setiap tahunnya kerugian yang ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar Rp 800 miliar, sedangkan jiwa yang terancam sekitar 1 juta.

  

Daerah yang memiliki rawan longsor :

  • Jawa Tengah 327 Lokasi 
  •  Jawa Barat 276 Lokasi 
  • Sumatera Barat 100 Lokasi
  • Sumatera Utara 53 Lokasi
  • Yogyakarta 30 Lokasi
  • Kalimantan Barat 23 Lokasi
  • Sisanya tersebar di NTT, Riau, Kalimantan Timur, Bali, dan Jawa Timur.
 

Tampak bahwa kejadian bencana dan jumlah korban bencana tanah longsor di Propinsi Jawa Barat lebih besar dibandingkan dengan propinsi lainnya. Hal demikian disebabkan oleh faktor geologi, morfologi, curah hujan, dan jumlah penduduk serta kegiatannya.

 

Pencegahan Terjadinya Tanah Longsor

 
  • Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman.
  • Buatlah terasering (sengkedan) [ada lereng yang terjal bila membangun permukiman
  • Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan. 
  • Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal.
  • Jangan menebang pohon di lereng
  • Jangan membangun rumah di bawah tebing.
  • Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal.  Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit.
  • Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal. Pembangunan rumah yang salah di lereng bukit.
  •  Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak. 
  • Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi.

    Tahapan Mitigasi Bencana Tanah Longsor

·        Pemetaan

      Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau pemerintah kabupaten/kota dan provinsi sebagai data dasar untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana.

 

·          Pemeriksaan
Melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga dapat diketahui penyebab dan cara penaggulangannya.

 
 

·         Pemantauan
Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis secara ekonomi dan jasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.

 

·         Sosialisasi
Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota atau Masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang ditimbulkannnya. Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara antara lain, mengirimkan poster, booklet, dan leaflet atau dapat juga secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah

      Pemeriksaan Tanah Longsor

      Bertujuan mempelajari penyebab, proses terjadinya, kondisi bencana dan tata cara penanggulangan bencana di suatu daerah yang terlanda bencana tanah longsor.

 

        

                              SELAMA DAN SESUDAH TERJADI BENCANA

      Tanggap Darurat

Yang harus dilakukan dalam tahap tanggap darurat adalah penyelamatan dan pertolongan korban   secepatnya supaya korban tidak bertambah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

  •         Kondisi medan.
  •         Kondisi bencana.
  •         Peralatan.
  •         Informasi bencana.

      Rehabilita

      Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan.

      Rekonstruksi

      Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%. 

      Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain:

  •        Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa menyerap).
  •        Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pem-bangunan).
  •        Vegetasi kembali lereng-lereng.
  •        Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan lokasi hunian.

Demokrasi dan pemilu (PR PKN)

Demokrasi

 Konsep demokrasi sebagai suatu bentuk pemerintahan berasal dari filsuf Yunani. Sebelum abad ke-18, demokrasi dipandang sebagai suatu bentuk aturan politik yang hanya dapat dipertahankan dalam wilayah-wilayah yang sangat kecil; bentuk monarki (kerajaan) telah dipandang tak terelakkan dalam unit-unit politik yang lebih besar. Akan tetapi pemakaian konsep demokrasi dimulai sejak terjadinya pergolakan revolusioner dalam masyarakat Barat akhir abad ke-18. Pada abad ke-20 dalam perdebatan mengenai arti demokrasi muncul tiga pendekatan umum. Sebagai suatu bentuk pemerintahan, demokrasi telah didefinisikan berdasarkan sumber wewenang bagi pemerintah, tujuan yang dilayani pemerintah, dan prosedur untuk membentuk pemerintahan. Dengan kata lain, pemilihan para pemimpin dilakukan secara kompetitif  oleh rakyat yang mereka pimpin.

Tahun 1942, Joseph Schumpeter mengemukakan kekurangan dari Teori klasik demokrasi yang mengandung unsur “kehendak rakyat” sebagai sumber dan “kebaikan bersama” sebagai tujuan. Setelah menyangkal pendekatan sebelumnya, Schumpeter mengemukakan Metode demokratis, yaitu prosedur kelembagaan untuk mencapai keputusan politik yang didalamnya individu memperoleh kekuasaan untuk membuat keputusan melalui perjuangan kompetitif dalam rangka memperoleh suara rakyat. Pada abad ke-20, demokrasi sudah digunakan dalam sistem politik. Sistem itu dipilih melalui pemilihan umum yang adil, jujur, dan berkala, dan di dalam sistem itu para calon secara bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir semua penduduk dewasa berhak memberikan suara.

Dengan demikian menurut definisi diatas, demokrasi mengandung dua dimensi, kontes dan parisipasi. Yang menurut Robert Dahl merupakan hal yang paling menentukan bagi demokrasi atau poliarki. Demokrasi juga mengimplikasikan adanya kebebasan untuk berbicara, menerbitkan, berkumpul, dan berorganisasi, yang dibutuhkan bagi perdebatan politik dan pelaksanaan kampanye-kampanye pemilihan itu. Apabila suatu negara menolak partisipasi suatu bagian masyarakatnya untuk memberikan suara, seperti sistem yang dilakukan Afrika Selatan terhadap 70% penduduknya,maka sistem ini tidaklah demokratis. Karena pemilihan umum yang terbuka, bebas, dan adiladalah esensi demokrasi. Begitu pula, suatu sistem tidaklah demokratis bila oposisi tidak diperbolehkan di dalam pemilihan umum serta dihalang-halangi dalam mencapai apa yang dapat dilakukannya misal, koran-koran oposisi disensor atau dibredel, hasil pemungutan suara dalam pemilihan dimanipulasi. Bagi sebagian orang, “demokrasi sejati” berarti liberte, egalite, fraternite, kontrol yang efektif oleh warga negara terhadap kebijakan pemerintah, pemerintah yang bertanggung jawab, kejujuran, dan keterbukaan dalam percaturan politik, musyawarah yang rasional, dan didukung dengan informasi yang cukup, partisipasi, dan kekuasaan yang setara,dan berbagai kebijakan warga negara lainnya. Dalam negara demokrasi, para pembuat keputusan yang terpilih tidak menjalankan seluruh kekuasaan. Mereka berbagi kekuasaan dengan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat. Tetapi jika para pembuat keputusanyang dipilih secara demokratis hanya menjadi kedok bagi kepentingan kelompok yang tidak dipih secara demokratis untuk menjalankan kekuasaan yang jauh lebih besar, maka sistem itutidak demokratis. Menurut Jeff Haynes (1997) ada 3 (tiga) macam sebutan demokrasi yaitu:

*Pertama;demokrasi formal (formal demoracy) dalam kehidupan demokrasi ini secara formal pemilu dijalankan dengan teratur, bebas dan adil. Tidak terjadi pemaksaan oleh negara terhadap masyarakatnya. Ada kebebasan yang cukup untuk menjamin dalam pemilihan umum. Namun demokrasi formal tersebut belum menghasilkan sebagaimana yang diinginkan masyarakatyaitu; kesejahteraan masyarakat yang didukung terwujudnya stabilitas ekonomi dan politik.Model demokrasi seperti ini kemungkinan bisa dianalogikan dengan situasi dan kondisi di era reformasi saat ini yang tengah berlangsung.

*Kedua; demokrasi permukaan (Façade Democracy); yaitu demokrasi seperti yang tampak dari luarnya memang demokrasi, tetapi sesungguhnya sama sekali tidak memiliki substansi demokrasi. Demokrasi model ini kemungkinan lebih tepat jika dianalogikan dengan situasi dan kondisi demokrasi pada masa Orde Baru.

*Ketiga; demokrasi substantif (Substantive Democracy), demokrasi model ini memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat, mungkin saja di luar mekanisme formal.Sehingga kebebasan yang dimiliki masyarakat mampu mendapatkan akses informasi yang akurat dalam pengambilan keputusan penting oleh negara atau pemerintah. Jadi demokrasi substantif tersebut memberikan keleluasaan yang lebih dinamis tidak hanya demokrasi politik saja seperti selama ini dirasakan, tapi juga demokrasi sosial dan demokrasi ekonomi. Model demokrasi substantif ini merupakan konsep yang menjamin terwujudnyaperbaikan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat. Jika demokrasi substantif  bisa diwujudkan,barangkali dapat disebut sebagai demokrasi yang berkualitas. Karena implementasi demokrasi model ini mampu menyentuh kebutuhan masyarakat yang sangat mendasar yaitu nilai kebebasan yang memberikan akses di bidang ekonomi dan sosial, sehingga peningkatan taraf hidup masyarakat mampu bisa diwujudkan.

Adapun sudut pandang kegunaan dan keuntungan dengan menjalankan prinsip demokrasi menjamin kehidupan masyarakat yang lebih berkualitas. Seperti yang disampaikan oleh Robert A. Dahl (1999) bahwa;
*pertama; dengan demokrasi, pemerintahan dapat mencegah timbulnya otokrat yang kejam dan licik;
*kedua; menjamin tegaknya hak asasi bagisetiap warga negara;
*ketiga; memberikan jaminan terhadap kebebasan pribadi yang lebihluas;
*keempat; dengan demokrasi dapat membantu rakyat untuk melindungi kebutuhan dasarnya,
*kelima; Demokrasi juga memberikan jaminan kebebasan terhadap setiap individu warga negara untuk menentukan nasibnya sendiri;
* keenam; Demokrasi memberikan kesempatan menjalankan tanggung jawab moral;
*ketujuh; Demokrasi juga memberikan jaminan untuk membantu setiap individu warga negara untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki secara luas;
*kedelapan; Demokrasi juga menjunjung tinggi persamaan politik bagi setiap warga negara;
*kesembilan; Demokrasi juga mampu mencegah perangantara negara yang satu dengan yang lain;
*kesepuluh; Demokrasi juga mampu memberikanjaminan kemakmuran bagi masyarakatnya.

 

    Kolerasi Pemilu dan Demokrasi (hubungan pemilu dan demokrasi)

Demokrasi adalah sebuah sistem politik yang mencari dan mengarahkan gerakan masyarakat dalam mencapai konsep peradabannya. Dalam perspektif dan praktik demokrasi,dapat pula disebut sebagai pemerintahan oleh rakyat yang dijalankan oleh perwakilan yangmereka pilih sendiri melalui suatu pemilihan umum (pemilu) yang berlangsung secara demokratis dan berkala.

Menurut Henry B. Mayo, dengan adanya Pemilihan Umum maka salah satu nilai demokrasi dapat terwujud, artinya terjadi perpindahan kekuasaan negara dari pemegang yang lama kepada pemegang yang baru secara damai. Pemilihan Umum merupakan salah satu sendi untuk tegaknya sistem politikdemokrasi. Tujuan Pemilihan Umum tidak lain adalah untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip demokrasi, dengan cara memilih wakil-wakil rakyat di Lembaga Perwakilan Rakyat.Kesemuanya itu dilakukan dalam rangka mengikut sertakan rakyat dalam kehidupan ketatanegaraan. Salah satu fungsi utama Pemilu dalam negara demokratis tidak lain adalah untuk menentukan Kepemimpinan Nasional secara konstitusional. Kepemimpinan Nasional yang dimaksud disini menyangkut juga kepemimpinan kolektif  yang direfleksikan dalam diri paraWakil Rakyat. Oleh sebab itu dalam bentuk dan jenis sistem pemerintahan apapun, Pemilu menduduki posisi yang sangat strategis dalam rangka melaksanakan tujuan tersebut. Dalam sistem Presidensiil yang murni, Pemilu diselenggarakan sebanyak dua kali, yaitu  pertama,untuk menentukan wakil rakyat yang duduk di parlemen. Kedua, untuk menentukan Presiden (Kepala Pemerintahan) dalam rangka menyelenggarakan Pemerintahan Negara.

Dalam suatu sistem politik demokrasi, kehadiran pemilu yang bebas dan adil (free andfair) adalah suatu keniscayaan. Bahkan negara manapun sering menjadikan pemilihan umum sebagai klaim demokrasi atas sistem politik yang dibangunnya. Di negara-negara berkembang pemilihan umum sering kali tidak dapat dijadikan parameter yang akurat dalam mengukur demokrasi atau tidaknya suatu sistem politik. Artinya, ada tidaknya pemilu di suatu Negara tidak secara otomatis menggambarkan ada atau tidaknya kehidupan demokrasi politik dinegara tersebut. Hal ini disebabkan, pemilu di beberapa negara dunia  k e t i g a seringkali tidak dijalankan dengan menggunakan prinsip-prinsip demokrasi. Ada beberapa alasan mengapa pemilu sangat penting bagi kehidupan demokrasi suatu negara, khususnya di negara-negara Dunia ketiga, yaitu:
*Pertama, melalui pemilu memungkinkan suatu komunitas politik melakukan transfer kekuasaan secara damai.
*Kedua,melalui pemilu akan tercipta pelembagaan konflik. Secara konseptual, terdapat dua mekanisme untuk menciptakan pemilu yang bebas dan adil. -Pertama, menciptakan seperangkat metode atau aturan untuk mentransfer suara pemilih ke dalam suatu lembaga perwakilan rakyat secara adil, atau yang disebut oleh banyak kalangan ilmuwan politik disebut dengan sistem pemilihan (electoral system). -Kedua, menjalankan pemilu sesuai dengan aturan main dan prinsip-prinsip demokrasi, atau yang oleh kalangan ilmuwan politik disebut dengan proses pemilihan (electoral process). Sebagaimana disebutkan oleh Sjamsudin Haris (2005:2), pertama, Pemilihanlangsung diperlukan untuk memutuskan mata rantai oligarki partai yang harus diakui cenderung mewarnai kehidupan partai-par-tai politik. Kepentingan partai-partai itulah danbahkan kepentingan elit politik seringkali dimanipulasi sebagai kepentingan kolektifmasyarakat. Dengan demikian pemilihan umum secara langsung bagi calon anggotalegislatif dari partai politik, diperlukan guna meminus mata rantai politisasi atas partisipasipublik dan aspirasi publik yang cenderung dilakukan oleh partai-partai politik dan parapolitisi partai bilamana dipilih oleh elit politik di parlemen.

Pemilihan umum secara langsung bagi calon anggota legislatif dan partai politik,diperlukan untuk meningkatkan kualitas akuntabilitas, para elit politik. Pemilihan umum secara langsung calon anggota legislatif dan partai politik, diperlukan untuk, menciptakan stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan, baik pusat maupun lokal langsung. Pemilihan umum secara langsung calon anggota legislatif dan partai politik, akan memperkuat dan meningkatkan seleksi calon anggota legislatif karena makin terbukanya peluang bagi calon tersebut yang berasal dari bawah/daerah. Kecenderungan tidak sehat yang berlangsung selama ini adalah elit politik nasional hanya berasal dari dan beredar diJakarta saja hampir tidak ada peluang bagi para elit politik lokal untuk mengembangkan kariernya menjadi eilit politik nasional, sehingga berkesan tidak mempunyai banyak pilihan ketika memutuskan siapa yang pantas menjadi elit politik nasional padahal salah satu tujuan otonomi daerah menurut Smith, adalah dalam kerangka pelatihan dan kepemimpinan nasional.

Pemilihan umum secara langsung oleh rakyat, akan lebih meningkatkan kualitas partisipasi rakyat di satu pihak dan keterwakilan elit di lain pihak, karena masyarakat dapat menentukan sendiri siapa yang di anggap pantas dan layak yang akan menjadi calon anggota legislatif dan partai politik untuk membawa aspirasi masyarakatnya, baik di pusat maupun di lokal. Bagi Larry Diamond (2003: 103-107), Pemilihan Umum bebas dan adil yang dilakukan secara berkala, meskipun memenuhi aspek kompetisi dan partisipasi, hanya menjanjikan demokrasi pemilihan yang secara katagoris berbeda dengan demokrasi liberal. Selanjutnya Diamond merumuskan bahwa, demokrasi pemilihan adalah suatusistem konstitusional yang menyelenggarakan pemilihan umum multipartai yang kompetitif dan teratur dengan hak pilih universal untuk memilih anggota legislatif dan kepala eksekutif. Mengutip dari Caller dan Levitsky, Diamond mengidentifikasi sistem seperti itu sebagaidemokrasi prosedural yang diperluas. Darmawan (2008:85) menyatakan bahwa yang terpenting dalam pemilu adalah substansi demokrasi bukan klaim politis atas kedemokrasian  negara yang dibangun. Pemilihan dan pemilihan suatu sistem Pemilihan umum (Pemilu) merupakan salah satu keputusan kelembagaan yang penting bagi negara-negara yang berupaya untuk menegakkan keberadaban dan keberkualitasan sistem politik.

Karena sistem pemilihan umum akan menghasilkan logika-logika politik, atas laksana administrasi, berjalannya birokrasi,hingga tumbuh dan berkembangnya civil society di dalam sistem itu selanjutnya. Kehendak rakyat ialah dasar kekuasaan pemerintah. Kehendak itu akan dilahirkan dalam pemilihan-pemilihan berkala dan jujur yang dilakukan dalam pemilihan umum danberkesamaan atas pengaturan suara yang rahasia, dengan cara pemungutan suara yang bebasdan sederajat dengan itu. Dengan demikian kebebasan, kejujuran, rahasia dan berkesamaanmerupakan hal yang esensial dalam penyelenggaraan pemilu.

 

Pelaksanaan Pemilu pada Masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.

 

·         Tujuan Pemilu
1) Melaksanakan kedaulatan rakyat.
2) Sebagai perwujudan hak asasi politik rakyat.
3) Untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR.
4) Melaksanakan pergantian personil pemerintahan secara damai, aman, dan tertib (secara konstitusional).
5) Menjamin kesinambungan pembangunan nasional.

 

·         b. Asas Pemilu Indonesia
Sesuai dengan Pasal 22 E Ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi “Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil”.

·         c. Pelaksanaan Pemilu di Indonesia. Sejak Indonesia merdeka telah melaksanakan pemilu sebanyak sembilan kali.


1. Pemilihan Umum Pertama dilaksanakan tanggal 29 September 1955 untuk memilih anggota parlemen (DPR), tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota Dewan Konstituante. Diikuti 28 partai politik.

2. Pemilihan Umum Kedua dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 1971 yang diikuti sebanyak 10 partai politik.

3. Pemilihan Umum Ketiga dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 1977 yang diikuti oleh dua Parpol dan satu Golkar. Hal ini dikarenakan terjadi fusi parpol dari 10 parpol peserta pemilu 1971 disederhanakan menjadi 3 dengan ketentuan sebagai berikut.
a) Partai yang berhaluan spiritual material fusi menjadi PPP (Partai Persatuan Pembangunan)
b) Partai yang berhaluan material-spriritual fusi menjadi PDI (Partai Demokrasi Indonesia)
c) Dan partai yang bukan keduanya menjadi Golkar (Golongan Karya).

4. Pemilihan Umum Keempat dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 1982.

5. Pemilihan Umum Kelima dilaksanakan pada tanggal 23 April 1987.

6. Pemilihan Umum Keenam dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 1992, peserta pemilu masih dua parpol (PPP dan PDI) serta satu Golongan Karya.

7. Pemilihan Umum Ketujuh dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1997. Peserta pemilu adalah PPP, Golkar, dan PDI. Jumlah anggota DPR 500 orang dan anggota MPR 1.000 orang dengan rincian sebagai berikut.
a) Unsur ABRI 75 orang
b) Utusan Daerah 149 orang
c) Imbangan susunan : anggota MPR 251 orang
utusan golongan 100 orang
Jumlah 1.000 orang

8. Pemilihan Umum Kedelapan (Era Reformasi) dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 1999 yang diikuti sebanyak 48 partai politik. Pada pemilu ini telah terpilih jumlah anggota DPR sebanyak 500 orang dan jumlah anggota MPR sebanyak 700 orang dengan rincian DPR dipilih 462 orang, DPR unsur TNI/Polri 38 orang, utusan daerah 135 orang, dan utusan golongan 65 orang.

9. Pemilihan Umum Kesembilan dilaksanakan tanggal 5 April 2004 yang diikuti 24 partai politik. Ini telah terjadi penyempurnaan pemilu, yakni pemilu dilaksanakan untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota serta memilih presiden dan wakil presiden.

So Many homework here (Budaya Politik yang Berkembang di Indonesia)

this is PKN’s homework BUDAYA POLITIK DI INDONESIA DIBAGI BERDASARKAN ERA TAHUN NYA :

1.Era Demokrasi Parlementer (1945-1950)

Budaya politik yang berkembang pada era Demokrasi Parlementer sangat beragam. Dengan tingginya partisipasi massa dalam menyalurkan tuntutan mereka, menimbulkan anggapan bahwa seluruh lapisan masyarakat telah berbudaya politik partisipan. Anggapan bahwa rakyat mengenal hak-haknya dan dapat melaksanakan kewajibannya menyebabkan tumbuhnya deviasi penilaian terhadap peristiwa-peristiwa politik yang timbul ketika itu (Rusadi Kantaprawira, 2006: 190). Percobaan kudeta dan pemberontakan, di mana dibelakangnya sedikit banyak tergambar adanya keterlibatan/keikutsertaan rakyat, dapat diberi arti bahwa kelompok rakyat yang bersangkutan memang telah sadar, atau mereka hanya terbawa-bawa oleh pola-pola aliran yang ada ketika itu.

Para elite Indonesia yang disebut penghimpun solidaritas (solidarity maker) lebih nampak dalam periode demokrasi parlementer ini. Walaupun demikian, waktu itu terlihat pula munculnya kabinet-kabinet yang terbentuk dalam suasana keselang-selingan pergantian kepemimpinan yang mana kelompok adminitrators memegang peranan. Kulminasi krisis politik akibat pertentangan antar-elite mulai terjadi sejak terbentuknya Dewan Banteng, Dewan Gajah, dan PRRI pada tahun 1958 (Rusadi Kantaprawira, 2006: 191). Selain itu, dengan gaya politik yang ideologis pada masing-masing partai politik menyebabkan tumbuhnya budaya paternalistik. Adanya ikatan dengan kekuatan-kekuatan politik yang berbeda secara ideologis mengakibatkan fungsi aparatur negara yang semestinya melayani kepentingan umum tanpa pengecualian, menjadi cenderung melayani kepentingan golongan menurut ikatan primordial. Selain itu, orientasi pragmatis juga senantiasa mengiringi budaya poltik pada era ini.

2.Era Demokrasi Terpimpin (Dimulai Pada 5 Juli 1959-1965)

Budaya politik yang berkembang pada era ini masih diwarnai dengan sifat primordialisme seperti pada era sebelumnya. Ideologi masih tetap mewarnai periode ini, walaupun sudah dibatasi secara formal melalui Penpres No. 7 Tahun 1959 tentang Syarat-syarat dan Penyederhanaan Kepartaian. Tokoh politik memperkenalkan gagasan Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (Nasakom). Gagasan tersebut menjadi patokan bagi partai-partai yang berkembang pada era Demorasi Terpimpin. Dalam kondisi tersebut tokoh politik dapat memelihara keseimbangan politik (Rusadi Kantaprawira, 2006: 196).

Selain itu, paternalisme juga bahkan dapat hidup lebih subur di kalangan elit-elit politiknya. Adanya sifat kharismatik dan paternalistik yang tumbuh di kalangan elit politik dapat menengahi dan kemudian memperoleh dukungan dari pihak-pihak yang bertikai, baik dengan sukarela maupun dengan paksaan. Dengan demikian muncul dialektika bahwa pihak yang kurang kemampuannya, yang tidak dapat menghimpun solidaritas di arena politik, akan tersingkir dari gelanggang politik. Sedangkan pihak yang lebih kuat akan merajai/menguasai arena politik.

Pengaturan soal-soal kemasyaraktan lebih cenderung dilakukan secara paksaan. Hal ini bisa dilihat dari adanya teror mental yang dilakukan kepada kelompok-kelompok atau orang-orang yang kontra revolusi ataupun kepada aliran-aliran yang tidak setuju dengan nilai-nilai mutlak yang telah ditetapkan oleh penguasa (Rusadi Kantaprawira, 2006: 197).

Dari masyarakatnya sendiri, besarnya partisipasi berupa tuntutan yang diajukan kepada pemerintah juga masih melebihi kapasitas sistem yang ada. Namun, saluran inputnya dibatasi, yaitu hanya melalui Front Nasional. Input-input yang masuk melalui Front Nasional tersebut menghasilkan output yang berupa output simbolik melalui bentuk rapat-rapat raksasa yang hanya menguntungkan rezim yang sedang berkuasa. Rakyat dalam rapat-rapat raksasa tidak dapat dianggap memiliki budaya politik sebagai partisipan, melainkan menujukkan tingkat budaya politik kaula, karena diciptakan atas usaha dari rezim.

3.Era Demokrasi Pancasila (Tahun 1966-1998)

Gaya politik yang didasarkan primordialisme pada era Orde Baru sudah mulai ditinggalkan. Yang lebih menonjol adalah gaya intelektual yang pragmatik dalam penyaluran tuntutan. Dimana pada era ini secara material, penyaluran tuntutan lebih dikendalikan oleh koalisi besar (cardinal coalition) antara Golkar dan ABRI, yang pada hakekatnya berintikan teknokrat dan perwira-perwira yang telah kenal teknologi modern (Rusadi Kantaprawira, 2006: 200).

Sementara itu, proses pengambilan keputusan kebijakan publik yang hanya diformulasikan dalam lingkaran elit birokrasi dan militer yang terbatas sebagaimanaa terjadi dalam tipologi masyarakat birokrasi. Akibatnya masyarakat hanya menjadi objek mobilisasi kebijakan para elit politik karena segala sesuatu telah diputuskan di tingkat pusat dalam lingkaran elit terbatas.

Kultur ABS (asal bapak senang) juga sangat kuat dalam era ini. Sifat birokrasi yang bercirikan patron-klien melahirkan tipe birokrasi patrimonial, yakni suatu birokrasi dimana hubungan-hubungan yang ada, baik intern maupun ekstern adalah hubungan antar patron dan klien yang sifatnya sangat pribadi dan khas.

Dari penjelasan diatas, mengindikasikan bahwa budaya politik yang berkembang pada era Orde Baru adalah budaya politik subjek. Dimana semua keputusan dibuat oleh pemerintah, sedangkan rakyat hanya bisa tunduk di bawah pemerintahan otoriterianisme Soeharto. Kalaupun ada proses pengambilan keputusan hanya sebagai formalitas karena yang keputusan kebijakan publik yang hanya diformulasikan dalam lingkaran elit birokrasi dan militer.

Di masa Orde Baru kekuasaan patrimonialistik telah menyebabkan kekuasaan tak terkontrol sehingga negara menjadi sangat kuat sehingga peluang tumbuhnya civil society terhambat.  Contoh budaya politik Neo Patrimonialistik adalah :

a. Proyek di pegang pejabat.

b. Promosi jabatan tidak melalui prosedur yang berlaku (surat sakti).

c. Anak pejabat menjadi pengusaha besar, memanfaatkan kekuasaan orang tuanya dan mendapatkan perlakuan istimewa.

d. Anak pejabat memegang posisi strategis baik di pemerintahan maupun politik.

4.Era Reformasi (Tahun 1998-Sekarang)

Budaya politik yang berkembang pada era reformasi ini adalah budaya politik yang lebih berorientasi pada kekuasaan yang berkembang di kalangan elit politik. Budaya seperti itu telah membuat struktur politik demokrasi tidak dapat berjalan dengan baik. Walaupun struktur dan fungsi-fungsi sistem politik Indonesia mengalami perubahan dari era yang satu ke era selanjutnya, namun tidak pada budaya politiknya. Menurut Karl D. Jackson dalam Budi Winarno (2008), budaya Jawa telah mempunyai peran yang cukup besar dalam mempengaruhi budaya politik yang berkembang di Indonesia. Relasi antara pemimpin dan pengikutnya pun menciptakan pola hubungan patron-klien (bercorak patrimonial). Kekuatan orientasi individu yang berkembang untuk meraih kekuasaan dibandingkan sebagai pelayan publik di kalangan elit merupakan salah satu pengaruh budaya politik Jawa yang kuat.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Agus Dwiyanto dkk dalam Budi Winarno (2008) mengenai kinerja birokrasi di beberapa daerah, bahwa birokrasi publik masih mempersepsikan dirinya sebagai penguasa daripada sebagai abdi yang bersedia melayani masyarakat dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari perilaku para pejabat dan elit politik yang lebih memperjuangkan kepentingan kelompoknya dibandingkan dengan kepentingan rakyat secara keseluruhan.

Dengan menguatnya budaya paternalistik, masyarakat lebih cenderung mengejar status dibandingkan dengan kemakmuran. Reformasi pada tahun 1998 telah memberikan sumbangan bagi berkembangnya budaya poltik partisipan, namun kuatnya budaya politik patrimonial dan otoriterianisme politik yang masih berkembang di kalangan elit politik dan penyelenggara pemerintahan masih senantiasa mengiringi. Walaupun rakyat mulai peduli dengan input-input politik, akan tetapi tidak diimbangi dengan para elit politik karena mereka masih memiliki mentalitas budaya politik sebelumnya. Sehingga budaya politik yang berkembang cenderung merupakan budaya politik subjek-partisipan.

Menurut Ignas Kleden dalam Budi Winarno (2008), terdapat lima preposisi tentang perubahan politik dan budaya politik yang berlangsung sejak reformasi 1998, antara lain:

  1. Orientasi Terhadap kekuasaan

Misalnya saja dalam partai politik, orientasi pengejaran kekuasaan yang sangat kuat dalam partai politik telah membuat partai-partai politik era reformasi lebih bersifat pragmatis.

  1. Politik mikro vs politik makro

Politik Indonesia sebagian besar lebih berkutat pada politik mikro yang terbatas pada hubungan-hubungan antara aktor-aktor politik, yang terbatas pada tukar-menukar kepentingan politik. Sedangkan pada politik makro tidak terlalu diperhatikan dimana merupakan tempat terjadinya tukar-menukar kekuatan-kekuatan sosial seperti negara, masyarakat, struktur politik, sistem hukum, civil society, dsb.

  1. Kepentingan negara vs kepentingan masyarakat

Realitas politik lebih berorientasi pada kepentingan negara dibandingkan kepentingan masyarakat.

  1. Bebas dari kemiskinan dan kebebasan beragama
  2. Desentralisasi politik

Pada kenyataannya yang terjadi bukanlah desentralisasi politik, melainkan lebih pada berpindahnya sentralisme politik dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.

Dengan demikian, budaya politik era reformasi tetap masih bercorak patrimonial, berorientasi pada kekuasaan dan kekayaan, bersifat sangat paternalistik, dan pragmatis. Hal ini menurut Soetandyo Wignjosoebroto dalam Budi Winarno (2008) karena adopsi sistem politik hanya menyentuh pada dimensi struktur dan fungsi-fungsi politiknya, namun tidak pada budaya politik yang melingkupi pendirian sistem politik tersebut.

Referensi:

Kantaprawira, Rusadi. 2006. Sistem Politik Indonesia Suatu Model Pengantar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke X.

Marijan, Kacung. 2010. Sistem Politik Indonesia: Konsolidasi Demokrasi Pasca Orde Baru. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Winarno, Budi. 2008. Sistem Politik Indonesia Era Reformasi. Yogyakarta: Media Pressindo.

*http://politik.kompasiana.com/2012/05/30/budaya-politik-yang-berkembang-di-indonesia/

that all for now😀

Kamus Zakat

Istilah Zakat secara umum

Zakat
adalah harta dengan kadar tertentu yang wajib disalurkan kepada kelompok orang tertentu dan pada waktu tertentu, merupakan satu dari 5 rukun Islam dan diwajibkan berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma (kesepakatan) ahli fiqih Islam.

Harta Zakat
Harta yang telah terpenuhi syarat-syarat syar’i perwajiban zakatnya, seperti: hak milik, berkembang, mencapai nishab, sebagai kelebihan dari batas kebutuhan pokok, melewati satu haul (kecuali untuk pertanian, barang tambang, dan rikaz/harta karun, serta luqathah/barang temuan).

Nishab zakat
Kadar atau jumlah minimal pada harta wajib zakat dimana jika kurang dari batas minimalnya tidak terkena kewajiban zakat. Nishab zakat berbeda-beda tergantung jenis dan spesifikasi harta.

Melewati Haul
Harta wajib zakat dengan nilai/kadar mencapai nishab dan melewati masa 12 bulan (baik masehi atau hiriyah). Awal penentuan batas haul adalah saat dimana harta mencapai nishab. Tidak ada syarat haul pada harta pertanian, barang tambang, dan rikaz/harta karun, serta luqathah/barang temuan.

Kadar Zakat
Kadar atau nilai nominal yang wajib dikeluarkan dari harta yang sudah wajib zakat jika sudah terpenuhi nishab dan haul.

Sepuluh Persen
adalah kadar besarnya zakat yang harus dikeluarkan dari harta wajib zakat pertanian non-irigasi.

Dua Puluh Persen
Adalah kadar besarnya zakat yang harus dikeluarkan dari harta wajib zakat tertentu (harta karun, barang tambang, dan barang temuan).

Dua Setengah Persen
Adalah kadar besarnya zakat yang harus dikeluarkan dari harta wajib zakat (emas, perak, uang tabungan, saham, perniagaan).

Muzakki
Orang atau lembaga yang sudah wajib mengeluarkan zakat atas kekayaan harta tertentu, dengan syarat muslim, tidak ada syarat aqil-baligh menurut jumhur ulama (sebagian ulama lainnya mensyaratkan aqil-baligh).

Mustahiq Zakat
Adalah kelompok orang tertentu yang berhak mendapatkan harta zakat. Mereka adalah 8 jenis: fakir, miskin, amil, muallaf, pembebasan budak, gharim/pailit, fii sabilillah, dan ibnu sabil.

Shadaqah
Adalah sesuatu yang diberikan kepada orang fakir-miskin sebagai sebuah bantuan suka-rela, karena ingin mendapatkan ganjaran dari Allah.

Amil
Adalah orang yang ditugaskan untuk mengumpulkan, mengurusi, dan membagikan harta zakat kepada mustahiqnya.***

Zakat Perdagangan
Adalah pengelolaan harta sebagai modal untuk mendapatkan laba/keuntungan, demikian juga aktivitas jual-beli, dan hal-hal lainnya yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan. Perniagaan juga bisa diartikan sebagai pengubahan harta, menggerakkan, dan memutarnya sehingga berkembang (bukan berbunga !!!)

Pedagang
Adalah orang yang membeli dan menjual dengan niat untuk berdagang.

Barang Perdagangan
Adalah harta yang dipersiapkan untuk diperjualbelikan dalam dunia bisnis dengan tujuan untuk mendapatkan laba. Dalam bahasa perniagaan disebut harta lancar.

Barang Konsumtif
Adalah harta atau barang yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan keseharian, seperti rumah tinggal, kendaraan yang digunakan (bukan dibisniskan), pakaian, emas yang dipakai, dll. Dalam bahasa kekinian disebut harta tetap.

Perdagangan langsung
Adalah aktivitas jual-beli secara tunai dan langsung. Dalilnya adalah firman Allah dalam Al-Baqarah: “Kecuali untuk perniagaan langsung-tunai, maka tidakmengapa untuk tidak mencatatnya.”

Barang Simpanan
Barang atau harta dan sesuatu yang dibeli atau diproduksi dengan tujuanuntuk dijual, akan tetapi belum terjual hingga mencapai 1 haul.

Nilai Nominal
Adalah harta tertentu atas barang dan jasa yang ditentukan dengan angka.

Laba
Adalah keuntungan, baik barang atau uang, sebagai kelebihan dari modal dan seluruh pembiayaan.

Hutang
Adalah sesuatu harta atau uang yang wajib dikembalikan oleh debitor (penghutang) kepada kreditor (pemilik).

Piutang
Adalah sesuatu harta atau uang yang dipinjam oleh debitor untuk jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan bersama. Piutang terkena kewajiban zakat jika mencapai nishab, haul, dan adanya kemungkinan bisa mengembalikan dari debitornya.***

#Zakat Pertanian

Tanaman Pertanian
Adalah hasil (selain pohon) dari berbagai macam tanaman.

Buah
Adalah hasil dari pohon atau tanaman.

Hari Panen
Adalah masa dimana tanaman dipanen atau diambil buahnya. Dalilnya adalah firman Allah: “Dan tunaikanlah zakatnya pada saat dipanen.”

Air dari Mata Air
Adalah air yang keluar dari dalam bumi

Air Irigasi
Adalah air yang digunakan untuk mengairi pertanian, dimana pemanfaatanya memerlukan biaya tambahan. Air irigasi adalah lawan dari air tadah hujan. Zakat pertanian dengan irigasi adalah 5 %.

Pembiayaan Pertanian
Adalah seluruh pembiayaan yang dikeluarkan dalam rangka merawat pertanian, dari awal hingga pemanenan.

Sepuluh Persen
Adalah hak zakat yang harus dikeluarkan dari pertanian yang tidak ada pembiayaannya. Sepuluh persen juga kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang pedagang kafir dzimmi atau lembaga bisnis kafir dzimmi di kepada negara Islam dimana ia berada.

Lima Persen
Adalah hak zakat atas hasil pertanian yang menggunaan pengairan irigasi dan pembiayaan pertanian.

Satu Sha’
Adalah ukuran untuk zakat fitrah (fitri). 1 Sha’ sama dengan 4 mud dan jika dikonversikan dengan kilogram adalah sama dengan 2,176 kg (atau 2,5 kg atau 3 kg. Perbedaan konversi menjadi kilogram ini menurut tarjih yang dilakukan oleh masing-masing ulama -pent).

Satu wasaq
Adalah ukuran timbangan yang sama dengan 60 sha’ (sha’ nabawi) atau jika dikonversikan dengan kilogram adalah sama dengan 132,6 kg

#Zakat Penghasilan

Harta
Adalah uang atau yang semisalnya yang ditabung karena kelebihan dari keperluan pembiayaan hidup pada level kebutuhan pokok. Harta tersebut telah wajib zakat jika mencapai nishab dan haul.

Nishab Harta Kepekerjaan
Jika seorang pekerja tidak memiliki harta apapun selain dari hasil bekerjanya, maka nishab atas harta tabungannya adalah sama dengan nishab emas 85 gram (atau 92 gram menurut sebagian ulama) ukuran 24 karat, dan ditentukan nilai nominalnya pada saat akan dikeluarkan zakatnya. Apabila uang tunai atau tabungannya tidak mencapai nishab, maka digabungkan dengan emas atau perak yang ia miliki (jika ada), dan ditentukan harga nishabnya dengan nilai nominal.

Jatuh tempo haul
Adalah waktu bagi pezakat untuk mengeluarkan zakatnya setelah penetapan nishab dan awal haul pada 12 bulan yang lalu. Jika harta tabungan yang mencapai nishab pada saat tertentu, akan tetapi pada tahun berikutnya (12 bulan sejak awal penentuan haul) tidak lagi mencapai nishab, maka gugur kewajiban zakatnya, karena harta tersebut kurang dari nishab. Kecuali orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan konsumtif untuk mengurangi nishab dengan tujuan agar tidak terkena kewajiban zakat, maka zakat tetap wajib atasnya.***

#Kamus Zakat Ternak

Hewan ternak lepas
Adalah hewan ternak yang sepanjang tahun makanannya berasal dari tanaman di lahan bebas, seperti: rumput, daun-daunan, sampah tanaman dan buah-buahan, dan berbagai tanaman lainnya, tanpa biaya.

Hewan ternak peliharaan
Adalah hewan ternak yang pemilik atau penanggung jawabnya mengeluarkan pembiayaan untuk pakan dan biaya pemeliharaan lainnya.

Hewan konsumsi
Adalah hewan yang dimiliki dan dipelihara dengan tujuan hanya untuk pemenuhan kebutuhan primer pemilik dan atau pemeliharanya.

Hewan pekerja
Adlah hewan ternak yang digunakan sebagai alat untuk membantu dalam mengolah dan memanfaatkan lahan pertanian atau perkebunan, seperti unta untuk sarana mengangkut air, sapi untuk membajak lahan dan memutar roda irigasi.

Hewan ternak modal usaha
Adalah hewan ternak yang dipelihara dengan tujuan untuk diambil susunya, atau diambil anaknya, atau untuk disewakan.

Hewan dagangan
Adalah hewan ternak yang dibeli untuk dijual kembali sebagai dengan tujuan untuk memperoleh laba atau keuntungan.

Memecahkan atau menyatukan hewan
Adalah usaha menggabungkan hewan-hewan dari tempat-tempat yang berbeda dan pemiliknya atau kebalikannya dengan tujuan agar tidak terkena kewajiban zakat atau mengurangi besaran zakat hewan yang akan dibayarkan. Hal ini dilarang oleh Nabi SAW dalam suatu hadis yang artinya: (Sesungguhnya kami tidak mengambil zakat dari hewan yang sedang menyusui dan tidak memisahkan hewan yang terhimpun serta tidak menghimpun hewan yang terpisah). (H.R. Ahmad)

Hewan gabungan
Yaitu dua orang atau lebih memiliki sejumlah kambing, unta, atau sapi yang sama-sama tergabung dalam tempat penggembalaan, minuman, dan kandang untuk mengurangi biaya perawatannya. Ternak seperti ini dianggap seperti milik satu orang dalam penghitungan nisab dan kadar zakat yang wajib ditunaikan.

Kambing yang sah untuk zakat
Yaitu kambing yang telah berusia satu tahun penuh.

Tabi`/tabi`ah
Adalah anak sapi sapi jantan atau betina (bahasa Jawa: pedhet) yang telah berusia satu tahun dan memasuki tahun kedua.

Musannah
Adalah anak sapi betina (bahasa Jawa: pedhet) yang telah berusia dua tahun dan memasuki tahun ketiga.

Bintu makhad
Adalah unta betina yang telah berusia satu tahun dan memasuki tahun kedua.

Bintu labun
Adalah unta betina yang telah berusia dua tahun dan memasuki tahun ketiga.

Hiqqah
Adalah unta betina yang telah berusia tiga tahun dan memasuki tahun keempat.

Jadza`ah
Adalah unta betina yang telah berusia empat tahun dan memasuki tahun kelima (Jadza’ah untuk jenis kambing adalah usia enam bulan -pent).***

Sumber: Musthalahat Fiqh Masharif Al-Zakah.
Penerjemah: Abu Muhammad ibn Shadiq

what I do for now?

ohhhhh no, I didn’t go anywhere yesterday😥

actually I had a plan, but it didn’t working yesterday…. arggghhhh I’m so angry

I wanna go to cinema and aruond my city…. but my friend can’t go anywhere, she just stayed at her family… I’m so disappointed… hiks hiks hiks see youuuuu