PENGERTIAN, JENIS, dan PENCEGAHAN TANAH LONGSOR! (PKLH)

 

                   

 

Indonesia rawan terhadap gempa bumi , letusan gunung api dan tanah longsor. Jenis tanah yang banyak ditemui di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini bersifat subur dengan komposisi sebagian besar lempung dan sedikit pasir.

Tanah pelapukan yang ada di atas batuan kedap air pada pegunungan atau perbukitan dengan kemiringan sedang sampai terjal, berpotensi menimbulkan kelongsoran pada musim hujan. Jika di perbukitan atau pegunungan tidak ada tanaman keras berakar, kawasan itu rawan bencana kelongsoran.

 

Definisi Tanah Longsor

Tanah longsor terjadi akibat perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau campuran kedua material tersebut yang bergerak kebawah atau keluar lerengterjadinya kelongsoran diawali oleh air yang meresap kedalam tanah menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai ketanah kedap air, tanah menjadi licin dan tanah pelapukan diatasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

 

Jenis Tanah Longsor

Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.


 

1.

Longsoran Translasi

Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

 
     

2.

Longsoran Rotasi

Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.

 
     

3.

Pergerakan Blok

Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.

 
     

4.

Runtuhan Batu

Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

 
     

5.

Rayapan Tanah

Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

 
     

6.

Aliran Bahan Rombakan

jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

 

Faktor Penyebab Tanah Longsor

1. Hujan

Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November seiring meningkatnya intensitas hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Muncul-lah pori-pori atau rongga tanah, kemudian terjadi retakan dan rekahan tanah di permukaan. Pada saat hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak. Tanah pun dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor karena melalui tanah yang merekah itulah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Apabila ada pepohonan di permukaan, pelongsoran dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah.

 

2. Lereng terjal


Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.

 
 
 

3. Tanah yang kurang padat dan tebal


Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 meter dan sudut lereng > 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor, terutama bila terjadi hujan. Selain itu, jenis tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek jika terkena air dan pecah jika udara terlalu panas.


 

4. Batuan yang kurang kuat


Pada umumnya, batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah jika mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor apabila terdapat pada lereng yang terjal.

 

5. Jenis tata lahan



Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.

6. Getaran


Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.

 

7. Susut muka air danau atau bendungan

Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

 

8. Adanya beban tambahan


Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.

 

9. Pengikisan/erosi



Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

 


 

10. Adanya material timbunan pada tebing


Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.

 

11. Bekas longsoran lama

Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri:

  • Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda.
  • Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur.
  • Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai.
  • Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah.
  • Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama.
  • Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil.
  • Longsoran lama ini cukup luas.
 

12. Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)

Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri:

  • Bidang perlapisan batuan
  • Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar
  • Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat.
  • Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air).
  • Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat.
  • Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.
 

13. Penggundulan hutan


Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang.

 

14. Daerah pembuangan sampah


Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.

 

Wilayah Rawan Tanah Longsor

Setidaknya terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Setiap tahunnya kerugian yang ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar Rp 800 miliar, sedangkan jiwa yang terancam sekitar 1 juta.

  

Daerah yang memiliki rawan longsor :

  • Jawa Tengah 327 Lokasi 
  •  Jawa Barat 276 Lokasi 
  • Sumatera Barat 100 Lokasi
  • Sumatera Utara 53 Lokasi
  • Yogyakarta 30 Lokasi
  • Kalimantan Barat 23 Lokasi
  • Sisanya tersebar di NTT, Riau, Kalimantan Timur, Bali, dan Jawa Timur.
 

Tampak bahwa kejadian bencana dan jumlah korban bencana tanah longsor di Propinsi Jawa Barat lebih besar dibandingkan dengan propinsi lainnya. Hal demikian disebabkan oleh faktor geologi, morfologi, curah hujan, dan jumlah penduduk serta kegiatannya.

 

Pencegahan Terjadinya Tanah Longsor

 
  • Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman.
  • Buatlah terasering (sengkedan) [ada lereng yang terjal bila membangun permukiman
  • Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan. 
  • Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal.
  • Jangan menebang pohon di lereng
  • Jangan membangun rumah di bawah tebing.
  • Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal.  Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit.
  • Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal. Pembangunan rumah yang salah di lereng bukit.
  •  Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak. 
  • Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi.

    Tahapan Mitigasi Bencana Tanah Longsor

·        Pemetaan

      Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau pemerintah kabupaten/kota dan provinsi sebagai data dasar untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana.

 

·          Pemeriksaan
Melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga dapat diketahui penyebab dan cara penaggulangannya.

 
 

·         Pemantauan
Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis secara ekonomi dan jasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.

 

·         Sosialisasi
Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota atau Masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang ditimbulkannnya. Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara antara lain, mengirimkan poster, booklet, dan leaflet atau dapat juga secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah

      Pemeriksaan Tanah Longsor

      Bertujuan mempelajari penyebab, proses terjadinya, kondisi bencana dan tata cara penanggulangan bencana di suatu daerah yang terlanda bencana tanah longsor.

 

        

                              SELAMA DAN SESUDAH TERJADI BENCANA

      Tanggap Darurat

Yang harus dilakukan dalam tahap tanggap darurat adalah penyelamatan dan pertolongan korban   secepatnya supaya korban tidak bertambah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

  •         Kondisi medan.
  •         Kondisi bencana.
  •         Peralatan.
  •         Informasi bencana.

      Rehabilita

      Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan.

      Rekonstruksi

      Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%. 

      Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain:

  •        Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa menyerap).
  •        Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pem-bangunan).
  •        Vegetasi kembali lereng-lereng.
  •        Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan lokasi hunian.
About these ads

3 thoughts on “PENGERTIAN, JENIS, dan PENCEGAHAN TANAH LONGSOR! (PKLH)

  1. aku like..bisakah diberikan metode-metode pencegahannya dari segi geotekniknya?? seperti misalnya konstruksi apa yang paling cocok untuk masing-masing jenis longsorannya??
    Thanks ya..

    • maaf baru balas, ya, aku sibuk banget soalnya, sampai2 ga sempat buka2 blog, ini nih :
      hal2 yang diperluin pada setiap masing2 segmen tanahnya
      • Pada bagian Hulu
      (a) Mengidentifikasi permukaan tanah yang retak atau rekahan pada punggung bukit dan mengisi
      kembali rekahan/permukaan tanah yang retak tersebut dengan tanah.
      (b) Membuat saluran pengelak dan saluran drainase untuk mengalihkan air dari punggung bukit, untuk menghindari adanya kantong2 air yang menyebabkan penjenuhan tanah dan menambah massa tanah
      (c) Memangkas tanaman yang terlalu tinggi yang berada di tepi (bagian atas) wilayah rawan longsor.

      • Punggung (bagian lerengyang meluncur)
      (a) Membangun atau menata bagian lereng yang menjadi daerah bidang luncur, di antaranya dengan membuat teras pengaman (trap terasering).
      (b) Membuat saluran drainase (saluran pembuangan) untuk menghilangkan genangan air.
      (c) Membuat saluran pengelak disekeliling wilayah longsor.
      (d) Membuat penguat tebing dan check dammini.
      (e) Menanam tanaman untukmenstabilkanlereng.

      • Kaki (zona penimbunan bahan yang longsor)
      (a) Membuat/membangun penahan material longsor menggunakan bhaan2 yang mudah didapat, misalnya dengan menancapkan tiang panjang yang dilengkapi perangkap dan dahan dari ranting kayu atau bambu.
      (b) Membangun penahan material longsor seperti bronjong atau konstruksi beton.
      (c) Menanamtanaman yang dapat berfungsi sebagai penahan longsor.

      Bisa juga juga dengan teknik pengendalian longsor vegetatif yang pada prinsipnya mencegah air terakumulasi diatas bidang luncur, misalnyamenanam jenis tanaman berakar dalam, dapat menembus lapisan kedap air,mampu merembeskan air ke lapisan yang lebih dalam, dan mempunyai massa yang relatif ringan. Jenis tanaman yang dapat dipilih di antaranya adalah sonokeling, akar wangi, Flemigia, kayu manis, kemiri, cengkeh, pala, petai, jengkol, melinjo, alpukat, kakao, kopi, teh, dan kelengkeng
      kalau yang kontruksi2 dan lebih lengkapnya disini:
      http://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-III.pdf

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s